Karya Amar
Malam ini malam jumat kliwon masyarakat biasa mengadakan pengajian atau yasinan di rumah, terkadang dilakukan di baperkam atau tidak di rumah masing-masing bersama anak, dan isteri. Meskipun kini zaman modern tetapi masyarakat masih mempertahankan adat warisan nenek moyang. Maka tidak heran jika kalian datang berkunjung ke desa kami pada malam jumat kliwon pasti telinga kalian akan mendengar suara puji-pujian mengagungkan Tuhan YME. Singgahlah lain waktu ke desa kami pasti tak akan pernah kalian merasa sesak akan perkembangan zaman dengan segala kecanggihan dan kemustahilan akibat dari kecerdasan manusia dewasa ini. Kalian akan merasa tentram, damai, dan sejuk di sini.
Yah, itulah gambaran desa saya. Masih sangat, sangat memegang adat warisan nenek moyang meski letak desa kami tidak terlalu jauh dari kota kurang lebih berjarak 20 KM.  Jika kita hendak pergi ke kota dengan mengendarai kendaraan bermotor tidak kurang dari 2 jam kita sudah tiba di kota. Desa kami bernama Benda Kerep, berada di bagian selatan kota Cirebon. Dan yang menjadi megnet dari desa kami adalah terdapatnya pesantren yang melarang kendaraan bermotor masuk ke dalam lingkungan pesantren alat komunikasi dan elektronik lainnya seperti: mesin cuci, televisi, dan radio penggunaannya sangat dibatasi. Pesantren itu bernama pesantren benda kerep. Sesuai dengan nama desa dimana bangunan itu berdiri.
Saya pun pernah menimbah ilmu di dalam pesantren tersebut. Waktu itu ketika saya berumur 6 tahun. Selepas saya bersekolah taman kanak-kanak. Orang tua saya memasuki saya ke dalam pesantren itu dan saya pun memasukinya hingga berumur 15 tahun atau sampai duduk di bangku SMP. Saya merasa terlalu menyiksa diri bila harus lebih lama tinggal di dalam pesantren itu, mungkin karena saya sudah mengenal daerah luar yang lebih menarik ketimbang di dalam pesantren yang kegiatannya hanya berkutat di ranah kereligian dan keislamannya yah, setidaknya pada umumnya yang saya ketahui pada saat itu entah benar entah salah entahlah saya sendiri tidak tahu tepatnya. Mungkin kalian lebih memahami ketimbang saya pada saat umur saya baru belasan tahun.
Saya  berasal dari keluarga yang masih sangat memegang kuat adat dimana dulu ketika aku hendak di khitan saya berjiarah terlebih dahulu ke makam kakek dan nenek. Sebagai bentuk rasa hormat dan pemberitahuan dan tak lupa pula meminta agar acara berlangsung dengan lancar. Begitu pula dengan kakak saya yang hendak menikah tiga bulan lalu.
Kini hari terus berganti. Matahari tak henti-hentinya berputar dari pagi hingga malam kemudian datang kembali pagi. Bulan pun masih sama seperti dahulu. Selalu keluar malam hari ketika saya jenuh dengan rutinitas pesantren hendak mencari pengalaman hidup di luar sana yang lebih menarik. Begitu pun dengan bintang selalu saja hadir di saat bulan memerlukan teman bicara saat malam hari sampai matahari yang sombong itu menyinari bumi. Semua masih seperti dahulu hanya diri saya sendiri saja yang mungkin berubah.
Setelah saya berbicara dengan ayah dan ibu mengenai kejenuhan saya berada di dalam pesantren itu dengan perasaan takut itu akhirnya kedua orang tua saya menyetujui permohonan saya dan menerima alas an saya mengapa hendak keluar dari pesantren itu. Saya pun keluar dari pesantren itu dan meneruskan studi saya ke SMP 9 Cirebon, yah sekolah itu tidak terlalu jauh dari kediaman saya sehingga orang tua dapat terus mengawasi tindak tanduk saya. Terutama ibu saya. Beliau tidak ingin saya menjadi manusia modern, mengenal modern pun sangat tidak dianjurkan oleh ibu saya. Karena menurut beliau modern itu adalah sesuatu yang menjijikan dimana manusia dapat melakukan segala cara agar kebutuhannya terpenuhi. Manusia modern itu begitu licik. Segala hal dapat dipermainkannya sekehendak hati. Meski pun manusia itu telah berpendidikan tinggi namun dapat saja pengetahuannya itu tersingkirkan demi mementingkan urusan kemodernan dengan berbagai alas an seperti: demi kemajuan perekonomian, demi kemajuan transportasi, demi kemajuan bersama semua cara dapat dilakukannya tanpa dipertimbangkan bagaimana dampak yang akan ditanggung pada pundak masyarakat.
“Nak kamu sudah belajar di luar pesantren. Ibu hanya ingin berhati-hatilah dirimu dari manusia-manusia modern itu. Jangan kamu makan bulat-bulat pengetahuan yang telah kamu dapatkan darinya. Kamu saring, kaji lebih dalam, nak.” Cakap ibu kepadaku setelah menonton berita tentang penebangan hutan tanpa HPH itu. Yah tahun-tahun ini sangat marak penebangan liar tanpa HPH di luar pulau jawa atau mungkin di jawa sendiri. Setidaknya dalam sehari hutan telah kehilangan saudaranya 50 pohon. Coba kita kalkulasika dalam satu bulan 50 dikali 30 berarti 1.500 pohon telah hilang. Bagaimana jika setahun? Dua tahun ? atau mungkin 10 tahun mendatang akan habis hutan kita.
“iya ibu, saya akan berhati-hati segala keputusan yang akan saya ambil akan saya pertimbangkan.”
“bagus nak, ibu harap kamu tidak akan pernah melupakan percakapan kita kali ini.”  
“tidak akan pernah saya lupakan bu”
Setelah percakapan itu aku semakin penasaran dengan kemodernan. Apa sih itu sebenarnya modern? Apa modern itu segala sesuatu dapat dengan mudah dilakukan manusia? Atau apa?
Entahlah itu biar saya cari sendiri yang terpenting saat ini saat harus focus pada study saya dan menggapai cita-cita saya menjadi seorang arsitek.
****
Hari terus berjalan tanpa mengenal kasian kepada manusia yang hanya ingin berfosa-fosa saja. Yang diam akan terkubur, yang bergerak akan melesat jauh layaknya roket. Kini saya telah lulus dari pendidikan strata-1 di perguruan tinggi ternama di kota Jakarta. Saya kuliah di perguruan itu bukan tanpa halangan, kedua orang tua melarang saya untuk meneruskan sekolah ke perguruan tinggi di luar kota. Semua itu karena saya anak perempuan. Ibu sangat mengkhawatirkan diri saya beliau sangat sangat menghawatirkan keadaan saya itu bukan tanpa sebab. Beberapa kali dalam satu minggu sebelum keberangkatan saya ke Jakarta ibu menonton televise dan membaca Koran. Di televisi berita itu menyajikan tentang pembunuhan disertai pemerkosaan dan perampasan harta benda korban. Begitu pula di dalam Koran berita yang disajikan selalu itu hamper tiga hari. Saya meyakinkan ibu bahwa saya dapat menjaga diri saya dalam lingkungan kota dan arus zaman modernisasi saat ini.
“gila itu kelakuan manusia modernisasi saat ini nak. Ibu tidak ingin nanti jika kau ke Jakarta bakal menjadi seperti korban itu yang dibunuh, diperkosa lalu dirampas pula harta bendanya. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Ibu tidak ingin nak amit-amit, duh gusti bejat nemen kelakuan menusa kien. Sudah nak jika kamu hendak melanjutkan kuliah lanjutkan saja di Cirebon jangan di luar kota.”
Namun aku bersih keras untuk tetap melanjutkan sekolah ke perguruan itu. Dan terus meyakinkan ibu dan bapak. Seiring berjalannya waktu bapak dan ibu mengizinkan saya untuk melanjutkan study ke perguruan tinggi itu, walau dengan berat hati dan rasa khawatir yang terus bergentayangan dalam pikiran dan hatinya.
“yasudah nak jika itu keputusanmu kita akan mengizinkanmu untuk bersekolah di perguruan tinggi yang kau kehendaki. Namun kau jangan lupa nak dengan janji yang telah kau ucap dulu pada ibu ketika kau duduk di bangku SMP”
“ya, bu pasti akan saya ingat. Dan saya jaga kesucian saya bu.”
Kini saya telah menjadi arsitek profesi yang saya dambakan sejak kecil. Betapa senang diri ini cita-cita yang diinginkan tercapai juga. Semua itu berkat izin dari orang tua dan campur tangan orang tua dalam mendidik diri ini yang menjadi pribadi kuat, tangguh, dan memegang teguh agama. Terima kasih tuhan.
Saat ini saya bekerja di PT. Makmur Jaya Muara Dua Sumatra Selatan. Bekerja di bagian arsitek, merancang bangunan yang hendak di bangun di lahan kosong yang tidak berpenghuni atau lahan yang sudah dihuni tetapi hendak direparasi. Itulah tugas saya di perusahaan ini.
Suatu hari datang proyek pembangunan pabrik kelapa sawit di provinsi Riau. Saya mendapat perintah dari direktur utama untuk menghendel proyek ini karena ia sangat menyukai kinerja saya selama ini. Meski saya baru bekerja lima bulan diperusahaannya.
“Sayem, kemari kau!”
“iya, pak”
“nanti kamu yang hendel proyek kita di Riau ya.”
“Tapi pak?”
“sudah tidak ada tapi tapi, saya percaya kamu”
“Ba…ba..aaa.ikk pak”
Ke esokan harinya saya berangkat ke lapangan untuk melihat keadaan lapangan. Sebelum memulai pekerjaan saya tanyakan persyaratan perusahaan yang hendak membuka kantor di daerah itu. Apakah semua persyaratan sudah dipenuhi dan apakah masyarakat tidak keberatan dengan pembangunan pabrik ini? Yang terpenting apakah lahan yang akan dibangun ini sudah tidak memiliki sengketa dengan masyarakat? Saya tanyakan secara detail kepada pemilik perusahaan ini. Alhasil ternyata perusahaan ini masih memiliki sengketa dengan masyarakat. Tanah yang tertera dalam sertifikat perusahaan seluas 900 Hektare ini ternyata 100 hektarenya masih lahan sengketa. Aku memutuskan untuk membatalkan kerjasama ini. Dan pemilik perusahaan kelapa sawit itu pun sangat murka pada saya.
“brengsek kalian telah mempermainkan saya. Saya tuntut perusahaan kalian!!!”
“tuntut saja pak semeter pun saya tidak akan lari.”
“brengsek kamu ini.”
Aku acuhkan pemilik perusahaan serakah itu dan menuju kampong halaman Cirebon.

Cirebon, 10 Januari 2017

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama