Oleh: Yos Ayani
    Aku adalah Putri Ayani. Mereka memanggilku dengan sebutan Ay. Aku adalah penyuka segala hal yang tidak biasa disukai banyak orang. Aku menyukai pagi, hujan, senja, dan langit serta bintang.
            Sore ini, aku berniat untuk belajar bareng dengan sahabatku. Mereka bukan hanya sekadar sahabat, tetapi juga keluargaku. Kita selalu ada satu sama lain, saling menguatkan, saling mendukung, dan saling mensupport. Mereka yang menasehatiku ketika aku salah dan mengingatkanku ketika aku lupa. Kita sudah banyak berbagi cerita suka dan duka bersama.
             Dia Eliza. Biasa aku panggil Elis. Dia sahabatku yang paling pendiam, yang suka nasehatin aku ini itu. Dia orangnya kalem banget, tetapi dia yang paling marah ketika aku susah diajak salat. Kadang aku risih mendengar ceramah dia kalau aku salah, tetapi aku sayang sama dia.
          Kalau dia Tiara. Dia anaknya pintar dan kutu buku. Dia bisa disebut “Bintang Kelas”, tetapi dia sedikit sombong sama apa yang dimilikinya. Sedangkan Rahma juga sahabatku yang sering melihat cowok-cowok ganteng yang lewat di koridor. Dia mempunyai julukan “Pejuang Cogan”. Di antara kita berempat, dialah yang paling kaya raya. Maka dari itu, tak jarang kita selalu ditraktrir sama dia.
               “Ra? Yang ini gimana ya caranya?” tanyaku pada Tiara.
               “Oh, gini,sambil menjelaskan.
          “Oh, iya. Katanya kamu ikut Olimpiade Matematika ya?” tanya Rahma kepada Tiara.
      “Iya, Ma. Dadakan banget informasinya.”
               “Kalau gitu kamu harus banyak belajar dari sekarang. Persiapkan semuanya,” Elis menasehati.
               “Iya, Ra. Semangat ya.Semoga menang,timpalku.
               “Aamiin,” Elis dan Rahma kompak mengaminkan.
               “Iya. Terima kasih banyak ya?”
               Oke, jawab kami serentak kepada Tiara.
              Tiga jam berlalu. Jam sudah menunjukkan pukul 17:10 WIB. Kegiatan belajar bareng pun selesai. Kita kembali ke rumah masing-masing.
             Ay? Mamah sudah siapin makan malam. Ayo turun!” suara mamahku sambil mengetuk pintu kamar. Aku segera beranjak dari tempat tidur dan membukakan pintu.
                “Iya, Mah. Ayo aku sudah laper banget, nih.
                “Kamu sih dari tadi ngapain sibuk di kamar?” tanya mamah sembari melangkah turun ke bawah.
                “Ya biasa, Mah. Baca-baca novel baru.
             Makan malam kali ini terasa ada yang berbeda. Biasanya selalu ada obrolan antara aku dan mamah. Meskipun hanya menanyakan bagaimana sekolahku. Tapi kali ini rasanya sepi senyap. Kulihat wajah mamah yang sedang sedih. Selesai makan malam, mamah langsung membereskan piring dan gelas. Tanpa berbicara sedikitpun, ia beranjak ke dapur.
              “Mah? Mamah kenapa? Kok, kayak sedih gitu?” aku memberanikan diri untuk bertanya.
             Tidak apa-apa. Sayang. Mamah hanya sedang rindu sama papahmu.” Senyumnya terpaksa. Tanpa kata, aku mengerti betul apa yang dirasakan mamah. Dia merindukan seseorang yang dicintainya. Seseorang yang telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Air matanya jatuh dipundakku. Ada sendu malam ini.
***
           Hiruk pikuk bunyi kendaraan mulai memecahkan keheningan pagi. Jalanan mulai ramai dipenuhi angkutan yang lalu lalang. Ada yang pergi bekerja, ada yang hanya sekedar jalan-jalan pagi, ada yang terlihat terburu-buru ke sekolah, dan lain sebagainya. Langit tempak cerah, awan-awan seakan menari menikmati hangatnya cahaya matahari. Aku menaikki salah satu angkot yang melaju ke sekolah.
             Sesampainya di kelas, seperti biasa sebelum guru masuk, aku dan ketiga sahabatku selalu berdiskusi tentang apa saja, menceritakan ini itu dan membahas satu topik ke topik yang lain. Membicarakan sesuatu yang bermanfaat. Karena di usia seperti kita ini sedang mencari jati diri; siapa kita sebenarnya.
             “Dunia semakin tua ya? Sudah banyak tanda-tanda yang terjadi,ucap Elis.
             Benar. Oh, iya. Di usia seperti kita ini sedang proses mencari jati diri,timpal Rahma.
             Hmm... jati diri itu apa, sih?” tanyaku dengan polosnya.
             “Ya ampun Patrick! Jati diri aja tidak tahu, ledek Tiara.
             “Mencari jati diri itu artinya mencari siapa diri kita yang sebenarnya, jawab Elis.
             “Ehh ada guru tuh!”
***
        Pintu kamarku tertutup rapat. Setelah makan malam lebih awal dari jam biasanya, aku memilih menghabiskan waktu malamku di kamar, belajar serta membaca-baca buku karena besok pagi akan ada ujian.
           “Hufht… tak terasa, masa-masa SMA-ku akan berakhir,gumamku dalam hati. Perlahan namun pasti, malam semakin larut. Tak sadar aku pun tertidur dengan keadaan buku-buku yang masih berserak terbuka di tempat tidurku.
***
            Entah kenapa belakangan ini aku jadi malas bergabung dengan ketiga sahabatku, malah disaat-saat ujian sekolah seperti ini. Aku jadi jarang belajar bareng mereka lagi, seakan-akan aku ingin menjauh. Terkadang aku risih dengan ceramah yang selalu Elis sampaikan. Dia melarangku jangan begini jangan begitu. Aku juga risih dengan Tiara yang tak jarang menyuruhku belajar ini itu, dan juga Rahma yang selalu ngomel-ngomel tidak jelas.
             Belakangan ini aku lebih dekat dengan teman-teman baruku. Mereka adalah Riska, Eca, dan Indah. Aku merasa bebas berteman dengan mereka. Tiap kali pulang sekolah, kita selalu ke café atau mall dan kemana saja. Sudah dua minggu aku tidak bergabung dengan sahabatku. Aku lebih asik menghabiskan waktu bersama teman baruku, meskipun aku berteman dengan mereka jadi membuatku lupa waktu, lalu aku pun sering kena marah mamah karena pulang terlambat tiap hari.
            Hari ini aku tengah berbincang dengan teman baruku di taman sekolah. Kulihat ada ketiga sahabatku yang lewat ke arahku, lalu mereka menyapaku.
            “Assalamu’alaikum Ay?” salam mereka kepadaku.
             “Wa’alaikumussalam,jawabku dingin.
        Mereka tidak memasang muka masam akan sikapku yang dingin. Mereka malah memberikan senyuman tulus kepadaku. Senyum yang menenangkan. Memang benar, mereka adalah sahabat terbaik yang pernah aku kenal. Mereka ramah dan tidak sombong. Bahkan di kelas pun, hanya kita berempat yang mengenakkan hijab. Dan teman-teman baruku ini tidak berhijab.
***
           Hari demi hari, minggu demi minggu, telah aku lewati tanpa sahabat-sahabatku. Hingga akhirnya pengumuman kelulusan telah tertempel di mading sekolah. Setelah kutemukan namaku dan aku lihat, aku lulus. Ya tuhan, terima kasih. Aku belajar selama ini tidak sia-sia. Seketika aku terdiam, seperti memikirkan sesuatu.
              “Siapa yang memberiku ucapan selamat selain mamah dan Fandi? Kemana teman-teman baruku? Mereka bahkan tidak ada saat aku sedang seperti ini,tanyaku dalam hati.
           Dan, seketika aku teringat kepada tiga sahabatku. Elis, Tiara, dan Rahma. Tiba-tiba aku seperti merindukan mereka. Aku sadar, bahwa hanya merekalah yang selalu ada untukku. Aku sadar, bahwa sikapku ini tidaklah benar; menjauhi mereka yang begitu tulus bersahabat denganku. Air mataku menetes. Aku berjalan menuju kelas dengan lesu.
         Kulihat kelasku begitu sepi. Anak-anak sedang melihat pengumuman kelulusan dan merayakan kelulusan dengan teman-temannya. Sedangkan aku? Aku sendiri di kelas ini. Aku melangkah menuju tempat dudukku. Kulihat ada selembar kertas di mejaku. Entah dari siapa. Perlahan aku buka surat itu. Aku melihat di pojok surat itu tertulis bacaan “Dear Puput, aku terkejut, menelan ludah. Aku pastikan bahwa surat ini dari Elis. Karena Elis lah yang hanya memanggilku Puput. Memang, di antara mereka bertiga, Elis lah yang paling dekat denganku. Aku mulai membaca surat itu.


Dear puput

Aku tak habis pikir kenapa kau menjauh dari kami?
Kenapa kau mengabaikan kami?
Akan lebih baik jika kau memberitahukan apa kesalahan kami.
Agar kami dapat memperbaiki diri kami.

Puput yang kusayang.
Kami merindukanmu.
Maaf, jika selama ini kami diam akan sikapmu.
Bukannya kami juga ingin menjauh.
Tetapi rasa tidak enak jika kami merusak kebahagianmu.
Bersama teman-teman barumu.

Apakah kau tidak merindukan kami?
Kembalilah kepada kami.
Dan akan kita mulai kebahagiaan yang baru dan damai.

                                                                                           Salam,
                         Eliza

         Air mataku jatuh membasahi pipi dan jilbabku. Aku sadar akan satu hal, persahabatan yang baik adalah persahabatan yang mengantarkan kebaikan. Dan aku menemukan itu pada ketiga sahabatku. Aku tertunduk lesu dengan kedua mata yang masih mengeluarkan air mata.
           “Assalamu’alaikum?” terdengar suara yang begitu khas. Aku menoleh ke arah pintu kelas, dan kulihat ketiga sahabatku tersenyum tulus kepadaku.
            “Wa’alaikumussalam,jawabku sambil berjalan ke arah mereka.
         “Maafkan aku,ucapku dengan air mata yang sudah tak dapat kutahan lagi. Tanpa kata, mereka langsung memelukku.
              “Kita menyayangimu Ay, karena Allah,ucap Elis.
          “Udah-udah dong sedihnya. Kita makan-makan, yuk? Sambil ngerayain ketulusan kita,” Rahma menenangkan suasana.
               “Oh iya, Ay, selamat ya. Kamu lulus,ucap Tiara.
               “Iya, makasih ya. Kalian juga selamat. Semoga kita dapat masuk universitas impian kita.
                “Amiin.”
***
             Tidak seperti kebanyakan siswi lainnya yang merayakan kelulusan di tempat-tempat mewah, kita berempat hanya sekadar makan bakso di depan sekolah dengan tempat duduk dan meja yang sederhana. Kita berbincang-bincang mengenai universitas keinginan kita masing-masing.
             “Ngomong-ngomong, rencana kalian mau masuk ke universitas mana? Ngambil jurusan apa?” tanya Rahma.
              “Kalian kan tahu kalau selama ini aku suka banget sama novel dan pengen sekali jadi penulis seperti Boy Candra,ucapku.
               “Terus?” tanya Rahma lagi.
               “Ya aku mau masuk ke sastra Indonesia.”
                Wih, hebat. Kalau kamu, Lis?”
                “Aku rencana ambil kedokteran,” Jawab Elis
                “Aku juga,timpal Tiara.
                “Sama dong. Aku juga kedokteran. Itu keinginan ayahku,ucap Rahma.
                “Berarti, aku sendiri yang beda?” tanyaku minder.
                “Ya tidak apa-apa. Namanya juga keinginan. Semoga kita sama-sama sukses dan bisa berkumpul lagi, meski nanti kita berpisah.”
                “Amiin.”
            Hari demi hari, bulan demi bulan, telah kita berempat lalui. Dan kini, tiba di sebuah perpisahan. Perpisahan antar sahabat yang ingin mencari jati diri dan mewujudkan impian. Memang berat, tetapi harus bisa kita lawan. Jalani prosesnya, maka kita akan menikmati hasilnya. Aku memilih kuliah di Padang dan mengambil jurusan Sastra Indonesia. Elis dan Tiara memilih kuliah di bandung dengan mengambil jurusan kedokteran. Sedangkan Rahma menuruti keinginan ayahnya untuk masuk kedokteran dan berkuliah di luar negeri.
         Perpisahan ini sangat menggetirkan. Sungguh. Dan di pertemuan ini, kita menghabiskan waktu bersama, menikmati semua momen yang ada.
               “Kita sedang mencari jati diri kita, siapa kita sesungguhnya,ucap Tiara.
             “Jika kita ingin memenangkan suatu pertempuran, hal yang harus di lakukan adalah mengenali diri sendiri terlebih dahulu. Jika kita sudah memahami bagaimana diri kita, kita bisa menyusun strategi yang sesuai dengan kepribadian kita. Jangan biarkan emosi kita menguasai diri kita, sehingga kita sendiri tidak bisa mengontrol diri kita,ucap Elis.
              “Terkadang, kita merasa ragu ketika kita melakukan sesuatu. Apabila kita merasa ragu, sebaiknya kita tanyakan pada diri kita sendiri mengenai tujuan hidup kita. Apa yang kita lakukan harus sesuai dengan tujuan hidup kita,timpal Rahma.
             “Jangan menjadikan sukses sebagai tujuan. Lakukan apa yang kita cintai dan kita percayai, maka sukses akan datang dengan sendirinya,sambung Tiara
              “Setiap orang berhak memiliki mimpi yang diinginkan. Setiap mimpi yang di miliki seseorang akan berbeda dengan mimpi orang lain. Yang perlu kita lakukan adalah berpikir tentang mewujudkan mimpi yang kamu inginkan sehingga menjadi nyata. Lakukan itu dengan cara bekerja keras dan tekun, bukan hanya dalam angan-angan, tambahku.
            Pertemuan kali ini lebih banyak menyisakan ungkapan bijak yang spontan ingin kita ucapkan, sekadar menumbuhkan semangat yang membara. Pertemuan berakhir dengan diakhiri sebuah pelukan dan tangisan. Perpisahan memang selalu menggetirkan. Sungguh.
***
            Aku menjalankan aktivitas dengan orang-orang baru, dan tanpa Fandi maupun ketiga sahabatku. Aku menjalani setiap prosesku, meski terkadang cobaan dan ujian silih berganti menghampiri. Aku tidak mungkin patah semangat. Aku terus belajar dan belajar, demi mengapai impian dan masa depanku. Demi orang-orang yang kusayangi dan YANG menyayangiku, seperti mamah, ketiga sahabatku dan, juga kekasihku: Fandi.
            Setiap waktu kosong di malam hari, tak bosan aku membuat novel yang sedikit demi sedikit aku tulis. Ini adalah salah satu hobiku. Semenjak aku senang membaca novel, aku jadi berkeinginan menjadi seorang penulis, dan mamah mendukungku.
          Setiap sore, tak jarang aku pergi ke pantai gajah untuk menikmati senja. Meski senja itu menyakitkan, membuatku teringat akan kenangan bersama Fandi, dan ketiga sahabatku. Senja membuatku rindu dengan mereka. Ketika malam menjemput, senja pamit untuk pergi dan berjanji untuk kembali.
       Setelah bertahun-tahun tidak bertemu dengan Fandi dan ketiga sahabatku, kini akhirnya aku akan melepas rindu. Perpisahan ini sudah berakhir dengan hasil yang sungguh memuaskan. Aku berhasil membuat dua novel yang bejudul “Seperti Hujan dan Senja” dan “Mencintaimu dengan Ketenangan”. Kedua novelku itu sudah diterbitkan bulan lalu, dan aku bersyukur akan hal itu. Maka, nikmat Tuhan mana lagi yang aku dustai? Rahma, Elis, dan Tiara berhasil menjadi dokter. Impian mereka tergapai. Bahagia sekali rasanya ketika aku mendapat kabar bahwa mereka berhasil sepertiku juga.
           Pertemuan ini terjadi setelah bertahun-tahun tidak bertemu dengan sahabatku. Akhirnya, sore ini kita melepas rindu bersama di pantai Gajah; pantai yang dulu sering kita singgahi untuk melepas senja.
        “Ayy!!!” seru ketiga sahabatku menyambut kedatanganku yang diantar Fandi. Fandi hanya diam menatapku dan juga sahabatku. Dia seperti tidak ingin mengganggu suasana haru ini. Aku berlari kencang menuju ke arah mereka. Nafasku tidak teratur, air mata terus mengalir, air mata bahagia. Aku memeluk ketiga  sahabatku dengan cukup lama. Biarlah pelukan dan air mata yang mengungkapkan begitu rindunya kita.
             “Selamat! Kalian berhasil. Aku senang mendengar berita itu,ucapku pada mereka.
             “Iya, Ay. Terima kasih. Kamu juga selamat sudah berhasil menulis novel. Sudah dua novel lagi.
             “Iya, Ay. Kamu hebat banget. Aku bangga sama kamu.”
             “Kalian ini paling jago kalau memuji. Ah, kita kesana, yuk?”
              “Ayo.”
            Gelak tawa menyertai pertemuan kita. Akhirnya, kita dapat menikmati senja bersama lagi. Seperti halnya senja, ia mengajarkan kita arti sebuah perpisahan, tetapi ia akan berjanji untuk dapat kembali. Begitupun dengan perpisahanku bersama ketiga sahabatku. Di balik perpisahan ini, ada pertemuan yang begitu indah. Ketika berpisah demi menggapai impian masing-masing, maka kita akan bertemu lagi dengan impian yang sudah kita dapatkan. Dan itu sungguh menyenangkan. Malam pun menjemput senja. Dengan perlahan senja menenggelamkan dirinya. Suasana begitu tenang. Ada bahagia di dadaku. Di dada kita juga. Sungguh.


Yos Ayani, bersekolah di SMK Negeri 1 Susukan, kelas XII Akuntansi. Lahir di Cirebon, 3 Agustus 2002. Kontak Yos di email: yosiayani03@gmail.com dan Instagram: @inay_senja.


Post a Comment

أحدث أقدم