Oleh : Indra Yusuf

Sulit dimungkiri, bahwa keberhasilan siswa di negara maju ternyata berawal dari kebiasaan membaca. Kebiasaan membaca itu lantas berkembang-subur menjadi budaya membaca dan menulis atau literasi dasar. Sementara di sekolah, untuk menanamkan kebiasaan membaca kepada siswa tentu peran dan bimbingan guru sangatlah besar. Namun ironis, kompetensi dasar membaca dan menulis sebagian besar guru masih sangat rendah.
Hal ini terbukti---salah satunya---dengan banyak sekali guru yang mengalami kesukaran naik pangkat akibat persyarataan yang mewajibkan guru untuk melakukan publikasi ilmiah atau melakukan penelitian, seperti penelitian tindakan kelas (Classroom Action Reseach). Padahal budaya membaca dan menulis adalah salah satu ciri masyarakat intelektual, yang di dalamnya termasuk profesi guru. Oleh karenanya budaya literasi di kalangan guru perlu terus ditingkatkan. Sebab kompetensi literasi guru dapat menjadi pondasi untuk membangun budaya literasi di tingkat satuan pendidikan atau sekolah.
Seorang guru patutnya tidak semata berkonsentrasi pada rutinitas mengajar saja, melainkan juga diupayakan menyempatkan diri untuk melakukan pengembangan profesi berkelanjutan dengan melaksanakan publikasi ilmiah, pengembangan diri, maupun karya inovatif lainnya. Ketiga komponen pengembangan profesi ini akan dapat dilakukan oleh seorang guru apabila kompetensi literasi dasar yakni, membaca dan menulis telah membudaya dikalangan guru.
Tentunya selain kompetensi literasi dasar, seorang guru pun harus juga memahami dan mampu mengimplementasikan kompetensi literasi lainnya. Ketika seorang guru telah menguasai kelima bidang kompetensi literasi tersebut maka pencapaian tujuan pendidikan nasional yang dicanangkan dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang  Sistem Pendidikan Nasional, akan dapat segera terwujud.
Saat ini fakta yang ada tentang budaya literasi Indonesia sangat memprihatinkan. Berdasarkan hasil penelitian Programme for Imternational Student Assesment  (PISA) tahun 2010, tingkat membaca siswa Indonesia berada pada urutan ke 57 dari 65 negara dan tingkat literasi Indonesia menempati urutan 64 dari 65 negara.
Sementara pada tahun 2015 hasil penelitian yang dilakukan PISA menyebutkan bahwa kemampuan membaca siswa Indonesia menududuki peringkat 69 dari 76 negara yang disurvei. Hasil itu lebih rendah dari Vietnam yang berposisi ke 12 dari total negara yang disurvei. Demikian pula berdasarkan kajian UNESCO, indeks minat baca Indonesia hanya sekitar 0,001, yang artinya setiap 1000 penduduk hanya satu yang membaca. Sementara tingkat melek huruf orang dewasa 65, 5 persen.
Fakta di atas setidaknya telah menunjukkan bahwa budaya literasi di lingkungan sekolah belum terbangun dengan baik. Masalah ini kiranya menjadi bahan refleksi bagi para guru. Mengapa sebagaian besar sekolah gagal menumbuhkembangkan budaya literasinya. Guru dan tenaga kependidikan di setiap satuan pendidikan harus menjadi motor penggerak gerakan literasi sekolah.
Kompetensi menulis bagi guru sangat diperlukan dalam menjalankan tugas keprofesiannya. Kesempatan menulis bagi guru begitu luas, sehingga sangat sayang bila dilewatkan begitu saja. Sudah seharusnya guru dapat membagi waktu antara mengajar dan melakukan pengembangan keprofesiaanya. Sejatinya sehari-harinya pun guru telah terbiasa dengan dunia tulis menulis seperti saat membuat soal atau melakuan penelitian tindakan kelas (PTK).
Apalagi di era globalisasi saat ini, tentu arus informasi dan perkembangan ilmu pengetahuan sangat dinamis dan terbuka lebar. Sehingga sudah menjadi tuntutan bagi seorang guru untuk melahap sebanyak-sebanyaknya informasi dan pengetahuan melalui budaya membaca dan menulis yang baik. Kemampuan membaca dan menulis hanyalah salah satu komponen literasi yang paling dasar.
Masyarakat intelektual di tengah era informasi modern sekarang, konon ia harus mampu mencerap informasi sebanyak 820.000 kata per minggu apabila ia ingin mengukuhkan eksistensi dan aktualisasinya di tengah perubahan global. Dengan demikian, andai kecepatan membaca kita berkisar antara 120-150 kata per menit maka minimal setiap hari ia harus membaca antara 4-6 jam. Seorang guru tentu saja mesti melakukan kegiatan membaca seperti itu, sehingga kualitas pembelajarannya akan menarik lantaran selalu ada wawasan yang baru. Terlebih bagi guru yang akan menulis tentu banyak membaca akan menjadi referensi yang berharga dalam menghasilkan karya tulis ilmiahnya. Karena terdapat hubungan yang signifikan antara kemampuan membaca dengan kualitas dan produktivitas sebuah tulisan ilmiah.
Ada dua upaya untuk meningkatkan kompetensi literasi dasar guru, yakni : Pertama, sebaiknya sekolah mempunyai agenda kegiatan bedah buku (a book review) secara rutin. Setiap secara bergiliran guru berkewajiban untuk menjadi narasumber dalam kegiatan bedah buku tersebut. Para guru berhak memilih buku yang akan dibedah sesuai dengan minat dan bidang  keilmuan yang diampunya. Jika kegiatan buku dilakukan setiap bulan oleh 2-3 orang guru, maka dalam setahun kita sudah dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan keilmuan melalui 36 buku yang dibedah oleh rekan-rekan kita.
Kedua, saat ini masih banyak sekali media massa yang hadir ditengah gempuran informasi dari media digital dan online. Pada umumnya, media massa memiliki rubrik khusus untuk memuat karya tulis ilmiah dari pelbagai latar belakang pembaca atau bidang ilmu pengetahun. Karya tulis tersebut sering dikenal dengan sebutan artikel atau karya ilmiah populer. Tentu ini media yang sangat baik untuk guru dalam mengasah kompetensi literasi dasarnya. Menulis tulisan ilmiah populer di media massa juga merupakan salah satu bentuk pengembangan keprofesian berkelanjutan yang wajib guru lakukan.
Akhirnya kompetensi literasi dasar (membaca dan menulis) guru dan tenaga kependidikan sangat berperan besar dalam membangun budaya literasi sekolah. Selain itu kebiasaan menulis seorang guru akan membawa pengaruh positif terhadap budaya literasi informasi dalam pembelajaran di kelas. Karena, setidaknya siswa-siswa di sekolah akan terpacu untuk mengikuti kebiasaan gurunya dalam membaca dan menulis. Guru yang memiliki kemampuan kompetensi literasi dasar akan dapat menakwilkan pembelajaran yang  segar dan kontekstual.


*) Penulis adalah guru SMAN 7 Cirebon, penulis buku “Quo Vadis Pendidikan Kita (Refleksi Satu Dekade Menyuarakan Pendidikan)”.

Alamat : Jl Majalengka No 11 /B7  Nuansa Majasem Kota Cirebon 45135
No. HP 0813242295

Post a Comment

أحدث أقدم